petak umpet

kau petak umpet
dan aku anak kecil di suatu petang,
terlanjur mencintai hal-hal
yang tersembunyi dan menjauh.

kau memenjamkan mata
dan aku menghitung hingga sepuluh:
siapa yang akan lebih dulu
melupakan?

Advertisements

-tak punya judul-

kita seperti ombak yang bertahan pada karang
camar di pagi hari tanpa interval
metamorfosis.
pada cuaca yang berhenti, kamu menulis
apa yang hilang:
bisakah kita tak menginginkan apa-apa?

kecut merembes
pohon-pohon seperti tonggak
seperti selamat tinggal
yang tak bisa berubah – tidak juga
gemetar jari-jarimu saat menutup payung
untuk hujan yang lain

barangkali memang ada yang kita inginkan
di luar takdir, barangkali memang ada
balon udara
yang tak hendak kita lepaskan.

sajak secangkir kopi

tengah malam mata itu terjaga
retak waktu menunggu diuji oleh secangkir kopi
.
maka ia merapatkan jaket dan berjalan menuju kedai
terdekat: kedai tempat dirinya dari masa lalu menjadi
barista – seseorang yang telah menempuh 90,000
kilometer untuk lupa, meski jarak tak bisa lebih
dari repetisi dan kopi yang ia racik
hanya imajinasi.

namun ia sampai juga, pengunjung terakhir untuk
kopi yang menawarkan deru kereta, piazza di suatu senja,
juga seseorang yang bertahan dalam kehilangan.
setelahnya: apakah yang bebas dari kesedihan?
di dasar cangkir kopinya, tak ada jawaban

kecuali bayangan seorang yang tak memiliki apa-apa
selain percaya pada kisah badut
yang tak pernah tertawa.

tapi ia tertawa – sebab pada tuhan dan 1000 kopi,
betapa tak ada yang sama.
dan esok, lelucon
hanya akan kembali jadi pengisi teka-teki silang,
koran pagi, atau barangkali balon
yang terlepas dari gerbong.

lalu kita pun tahu
cangkir kopi itu hanya bisa
pulang sendiri setelah
mengecup kesedihanmu

selamat malam.

syal dan sejumlah morse

:disatannos

kamu mengingat tujuh puluh kilometer dan
pelabuhan mati di pesisir menuju
utara: segala yang pernah ia
kecupkan pada bibirmu saat kalian
melepas syal dan sejumlah morse
untuk nama-nama di masa lalu.
sejak itu, kamu belajar mencintai
klise dengan lebih sederhana, sebab
tak ada pergi atau datang yang
bukan pertanda*.

barangkali syalmu tak pernah
kembali, dan morse tak akan sampai.
barangkali, hidup memang tak bisa lebih dari
patahan-patahan nyeri di luar takdir
sebotol pasir- jatuh berkali-kali
meski tak bisa sembunyi, meski
dari jauh ini dan melankoli kapal terakhir
sebelum mati, aku akan terus mengingat

kamu mencintaiku.

*dikutip dari perbincangan-perbincangan patah dan rahasia , yang juga melatari tulisan ini.

Di Cappadocia

di Cappadocia, kamu muncul dengan
balon udara: hangat yang hilang
secepat pukul lima subuh
sebelum lusa tinggal repetisi dari
sebuah gema pada

ketinggian angin musim gugur,
juga barangkali sesuatu yang jatuh
melebihi kesetiaan sepucuk surat tak terbaca
dua titik dalam ellipsis penghabisan menandai kehendak hujan dan jari-jemari 100 tahun kesendirian…

tapi ini Cappadocia, di mana kita tak pernah punya alamat,
hanya interval di antara ramalan cuaca dan separuh cinta
sepanjang rapuh ingatan orang-orang

yang selalu pergi.