juni setabah puisi dan cinta selepasnya

:bersama Ama Achmad (angintimur)

1.
di juni setabah puisi kita
mungkin akan saling menemukan: satu
dua onomatopoeia untuk kata-kata
yang saling tidak kita ucapkan. di dadaku
kau menjadi rahasia yang
tak memiliki bunyi dan aku
masih pendengar
setia.

2.
kau menuliskan hal-hal yang sebentar
dengan seribu kalimat penghiburan.
aku menggarisbawahi janji,
dari cahaya separuh uzur dan
langit yang pernah suam.
kita, selepas beberapa baris
puisi, ternyata tak lebih sunyi dari
sesuatu yang jatuh bersama takdir,
dan lalu bersembunyi pada
keabadian sebuah ciuman
perpisahan.

3.
di suatu hari libur yang baik
aku dan kesedihan berselisih jalan.
namamu menjadi kenangan paling jauh,
yang bertahun lalu kupinjam
untuk menyimpan hal-hal yang tak kita tahu,
seperti tanda untuk membuka puisi panjang,
atau juni yang tak lagi memberi arti
pada bagian akhir percakapan
kita.

4.
sebab ada yang selalu tak terhitung
pada jumlah pelukan-pelukan kita;
dingin di pintu rumah, mimpi yang hangus
di halaman belakang. di ruang tengah, selalu ada
yang hilang juga menunggu, hanya untuk
belajar memahami cinta ialah
sesuatu yang kemarin dan tak tersentuh,
meski kita akan berusaha
menjangkaunya,

sekali lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s