Bab 5 ~ Abimanyu

Cafe itu terlalu besar untuk menunggu seseorang yang tak akan ada. Tapi hanya di sanalah kopi-kopi dan teh dituangkan sederas hujan-hujan yang turun di bulan November, seperti pada saat ia bertemu lelaki itu untuk pertama kalinya, suatu ketika dulu. Ia sedang berteduh dan lelaki itu sedang menunggu momen yang tepat untuk melupakan. Ada sepuluh meja kosong, masing-masing dengan empat kursi yang saling berhadapan, ia menghitung. Ia menyukai hal-hal yang akurat seperti itu, meski tanpa alasan yang jelas. Musik mengalun dipelankan, dan televisi di pojok menampilkan berita dengan suara yang hampir tak terdengar.

Ia masuk dengan baju yang basah. Dan lelaki itu menyapanya. Tak banyak yang ia tahu mengenai lelaki itu, dan lelaki itu pun begitu, hanya mereka beberapa kali pernah bertemu di kampus, terutama ketika ia sedang diam-diam mengagumi proyek-proyek mahasiswa tingkat akhir yang dipajang di auditorium. Milik lelaki itu adalah serangkaian foto yang memperlihatkan angin dan hujan yang kencang. Kadang-kadang juga padang ilalang dan tepian pantai yang ombaknya kencang. Ia menyukai gejolak-gejolak itu, meskipun foto-foto itu dicetak hitam-putih dan lelaki kakak kelasnya itu praktis jauh dari siapapun.

“Ini, segelas cappuccino panas,” sahut lelaki itu saat ia kembali dari toilet cafe setelah berganti kaus. Kaus oblong pinjaman lelaki itu tampak kebesaran untuk tubuh mungilnya. Ia meraih cappuccino itu, menggenggamnya dengan kedua telapak. Hangat. Lelaki itu tertawa. Dan tiba-tiba ia sadar, ia belum pernah melihat lelaki itu tertawa. Lampu-lampu interior dinyalakan hampir bersamaan dengan tawa itu; warnanya kuning dan sehangat tawanya.

“Apa yang lucu?” ia bertanya polos.
“Kamu seperti tenggelam ke dalam baju itu.”
Ia ikut tersenyum. “Aku suka gambarnya.” Di kaos itu ada sebuah awan yang meneteskan baris-baris hujan yang lebih mirip garis-garis jarum yang tajam. Di luar, hujan deras sekali. Mereka melihat beberapa pejalan kaki sedang berteduh di emperan cafe. Jendela yang buram karena percikan air membuat punggung-punggung itu terlihat seperti siluet.
“Sebentar, aku harus memfoto ini,” lelaki itu mengeluarkan kameranya dan untuk sesaat tak ada suara di antara mereka kecuali jepretan kamera dan pergerakan lensa. Ia tak pernah melihat seseorang yang sedemikian mencintai hujan seperti itu sebelumnya. Dan ia terpesona seperti pasir yang mengalir di jam gelas. Bedanya, ia tak tahu pasir di dalam jamnya ada seberapa banyak dan ia tak tahu gelasnya sendiri sedalam apa.

“Gimana capuccinonya?”
“Enak.” Padahal ia bukan penggemar kopi. Kopi apapun terlalu asam buat perutnya.
“Mau lagi?” Masih ada separuh lebih di cangkir.
Ia menggeleng cepat sambil melirik jam tangan.
“Kamu mesti segera pergi?”
“Ibu sendiri di rumah.”
“Oh.”
Diam yang lama.
“Masih hujan.” Dan ia sedang berteduh. Lelaki itu, mencari momen yang tepat untuk melupakan.

Tari meraih cangkir capuccinonya, merasakan kehangatannya yang perlahan-lahan memudar. Di luar hujan masih deras, tapi payung biru miliknya telah lama kering. Satu dua orang yang berteduh di luar mulai memasuki cafe dan duduk di kursi-kursi kosong. Tak ada yang bisa memastikan kapan hujan berhenti. Kopi-kopi dituangkan. Tapi mereka bukan orang yang ia tunggu. Ia melirik jam tangannya. Masih dua jam lagi sebelum lelaki itu datang.

Berita di televisi mengabarkan huru-hara di kawasan gedung DPR. Para mahasiswa mengunjuk rasa memprotes kenaikan harga, sebelum dibubarkan dengan paksa oleh polisi militer. Tidak ada korban jiwa. Berita banjir di daerah Sumatera. Seorang pelajar muda berhasil memenangkan olimpiade astronomi di Belgia.

Cappuccinonya terasa asam sekali.
Tidak ada barista sebaik lelaki itu. Sudah lebih setahun sejak ia pergi. Orang tak memerlukan alasan untuk pergi, bukan? Seperti ayah. Dan orang tak butuh alasan untuk tetap menunggu. Seperti ibu. Dan di antaranya keduanya, kita belajar untuk melupakan. Tapi ia bukan murid yang baik.

“Ini, kupinjamkan payungku,” lelaki itu menyodorkan tangannya dan sekaki payung berwarna biru yang terlipat rapi. “Kau harus pulang, bukan?” Ia ragu sejenak, sebelum menerima payung itu seperti seorang anak kecil mendapatkan permen lolipop. Tapi ia tak tahu bahwa terlalu banyak yang manis tidak baik untuk gigi. Dan ia pun lari, dari hujan ke hujan, membawa dua barang kepunyaan lelaki itu: kaos oblong yang kebesaran dan payung biru yang tak menjanjikan apa-apa kecuali secuil keteduhan.

“Tari?”
Ia menengadah. Lelaki itu menyapanya. Kursi-kursi mulai terisi, tapi ada kekosongan yang seperti menggantung di udara. Cafe ini terlalu besar untuk menunggu. Dan lelaki itu bukan Abimanyu.

“Sudah lama?”
“Baru saja, Mas,” Ia mempersilakan lelaki itu duduk.
“Aku belum terlambat, kan?”
Tari menggeleng. “Mas Bima kecepatan setengah jam.”
Bima tersenyum. Bukan itu maksud pertanyaannya.
“Hujan,” Mereka menatap ke jendela. “Seperti baju kamu.”
Tari menatap gambar di kaos oblongnya: masih gambar sebuah awan yang meneteskan baris-baris hujan yang lebih mirip garis-garis jarum yang tajam.

“Iya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s